087894224928

Surabaya - Jawa Timur

JUALAN PULSA KINI MENJADI LEBIH GAMPANG !

Kamis, 19 November 2020

Jualan Online - Antara Bangga Bisa "Mengakali" atau Ternyata Malah Jadi Korban Jebakan Marketplace?

Dunia bisnis menjual barang apapun baik lewat pasar tradisional, toko di mall maupun lewat channel digital seperti marketplace jaman sekarang tidak terlepas dari prinsip dasar ekonomi yaitu hukum dagang keuntungan sebesarnya dengan ongkos semurahnya.
Begitu juga jangan dilupakan ilmu pelajaran ekonomi saat SMP-SMA yaitu hukum supply and demand. Namun yg mencolok di e-commerce adalah kenyataan banyak orang Indonesia yang terlalu NAIF yang cenderung beranggapan " Semua akan bahagia melalui magic dari internet ". Ini didukung pula oleh kecenderungan anak generasi milenial yang mulai dari mengerjakan PR sampai curhat diputusin pacar semua digantungkan sama dukun digital "Mbah Google".


Jadi ada kalanya ketika berjualan di e-commerce dimana para UKM yang bisa jadi dikelola seorang mantan pegawai yang resign karena iming-iming kawan nya (yg resign duluan) , ibaratnya referal bisnis resign (wkwkwkwk), akan menghadapi suatu euforia kenikmatan melakukan pembungkusan bubble wrap, kirim banyak barang via kurir, mengakali cashback, omset gede (padahal untung tipis), ikutan workshop bersama para penjual ludah dan sebagainya. Kegiatan ini saya temukan polanya ketika mulai maraknya penjualan online disekitar tahun 2013 dan sangat menguntungkan memang pada tahun awal-awal itu dimana dengan mudahnya mengakali sistem e-commerce untuk mendapat untung gede. Ini didukung dengan marketplace yang masih pada tahap "BAKAR UANG" pada tahun-tahun awal itu. Dan apa yang terjadi tahun 2020 ? Yang "Burn Out" jadi abu adalah para UKM yang kini kapok makin susah mengakali dan malah menjadi korban marketplace.




Mungkin disadari atau tidak bisnis online di Indonesia sangat meniru 100% dari pola jualan di luar negeri, dan dapat dikatakan polanya telat 10 tahun kebelakang. Hanya GOJEK yang sangat khas ke Indonesiaan nya dan memang bukan seperti marketplace jadi jangan diambil perbandingan ya. Jadi ambil perbandingannya seperti Tokopedia vs BliBli kalau mau mencari padanan lokalnya seperti penggambaran diatas alibaba vs amazon . Kenapa begitu ? Yang harus dipahami adalah alibaba adalah marketplace tempat bertemu pemasok dan pembeli, jadi ada stok barang produksi yang harus dimiliki penjual. Sedangkan amazon memiliki gudang tersendiri (Amazon Fulfillment Center) pada tiap daerah dan akan rajin mengisi stoknya dari para pemasok atau produsen nya. 


Sesederhana itu perbedaanya dan di luar negeri sana (baru akan terasa 10 tahun kemudian di Indonesia) dan mulai terlihat jelas disparasi antara kedua sistem e-commerce ini. Sedangkan di kita ini masih abu-abu lhooo...ada yang ingin punya gudang seperti lazada tapi masih ada seller pribadi..ahhh ga jelas dimari pokoknya. 


Berikut ini saya rangkum beberapa jebakan e-commerce yang mulai terlihat jelas ketika pandemi 2020 dan saya harap para pebisnis UKM dapat bijak menyadarinya dan segera kembali membuka buku pelajaran ekonomi jaman SMA dulu dan kembali berpijak pada bumi, jangan mendongak ke langit terus ! Tengeng jadinya ....


Persaingan dan Perang Harga

Perangkap pertama yang jarang disadari pebisnis saat akan berjualan di marketplace yaitu persaingan dan perang harga. Saat Anda berjualan di marketplace, kebanyak pembeli memang akan concern pada harga yang Anda pasang. Dengan kemudahan konsumen untuk membandingkan harga antar toko, membuat perang harga di marketplace ini tak terhindarkan. Begitu tingginya persaingan harga antar toko di marketplace membuat Anda tidak boleh sembarangan memasang harga. Sebab harga merupakan salah satu hal terpenting yang tidak akan dilupakan konsumen saat akan membeli. Di marketplace sendiri dengan harga yang sudah terpasang, membuat konsumen akan mencari yang termurah. Bahkan dengan selisih harga 500 rupiah pun mereka akan bisa berpindah ke toko termurah.


Anti Branding

Anda yang sedang menggiatkan popularitas branding, maka memilih marketplace sebagai tempat jualan adalah bentuk kesalahan terbesar. Mengapa? Sebab, saat Anda memilih marketplace maka nama usaha atau produk Anda akan langsung tertelan oleh brand yang lebih besar bernama marketplace. Kalau mau bukti coba saja Anda dengarkan percakapan warganet sekarang. Bagaimana ia menyebut Bukalapak, Shopee, Lazada atau Tokopedia sebagai tempat pembelian mereka. Lantas ke mana nama toko Anda yang sebenarnya menjual produk yang mereka beli? Tentu saja seperti dikatakan sebelumnya nama bisnis Anda tertelan habis oleh nama marketplace. Jadi bagi Anda yang sedang berusaha mempopulerkan nama atau brand bisnis, sebaiknya Anda menghindari pasar marketplace sebagai tempat berjualan.


Anti Loyal Customer

Berikutnya, perangkap  yang bisa dialami pebisnis saat berjualan di marketplace adalah anti loyal customer. Mungkin suatu hari ada konsumen yang membeli produk di toko Anda. Tapi di marketplace, Anda tidak akan bisa menjamin konsumen tadi akan datang kembali ke toko Anda untuk membeli produk lagi. Sebab, ketika konsumen akan membeli barang lagi, mereka bisa saja mencari dulu barangnya lewat pencarian dan melihat toko lain yang menghadirkan harga lebh murah untuk dibeli. Anti loyal customer di marketplace ini juga disebabkan tidak populernya nama toko atau bisnis Anda untuk diingat. Jadi konsumen pun bisa saja berpindah-pindah toko saat mereka akan melakukan pembelian.


Tanpa Kontrol

Anda yang membuka toko di marketplace maka harus bersiap dengan segala keterbatasan yang ada. Tidak hanya tidak bisa mengetahui seberapa banyak pengunjung toko Anda, tapi di marketplace ini Anda juga tidak bisa mengetahui datangnya pengunjung toko. Semua keterbatasan ini dikarenakan adanya kontrol yang ketat dari pihak marketplace. Data yang bisa didapat dari kunjungan atau pembelian konsumen ini memang penting bagi sebuah bisnis. Sebab dari data-data itulah pebisnis bisa dijadikannya sebagai bahan untuk menyusun strategi pemasaran yang terbaik. Jadi berjualan di marketplace hanya membuat Anda bisa menerima order, mengirim barang dan menunggu barang diterima konsumen.


Commission Fee yang Siap Menanti

Terakhir, perangkap yang bisa saja dialami pebisnis yang menjual barangnya di marketplace yakni commission yang siap menanti. Commission fee adalah fee atau biaya yang dibebankan oleh pihak penerbit pada pihak yang bekerjasama dengan mereka. Jadi setiap transaksi yang terjadi nantinya oleh pihak marketplace sebagai pemilik tempat akan dikenakan fee dengan besaran tertentu. Dari adanya commission fee ini tentu membuat penjual harus ekstra berpikir untuk memberikan harga untuk produknya. Sebab bila mereka tidak menaikkan harga maka biaya produksi tidak bisa tertutup, namun bila menaikkan harga khawatir pembeli pergi. Dilema inilah yang nantinya akan dialami pebisnis bila gerbang commission fee ini sudah diberlakukan pihak marketplace. BAKAR UANG pun akan mengakibatkan UKM ikutan jadi ABU.

Tidak ada komentar:
Tulis komentar

Join Our Newsletter